Aku adalah aku, dan sampai sekarang aku belum menemukan seseorang yg mengerti aku, kecuali bunda tentu saja. Mungkin Tuhan sudah menunjukkannya tapi mungkin aku saja yg tak sadar. Betapa luasnya kefanaan ini sehingga ujung dunia pun belum juga aku tahu. Namun setelah beberapa lama. . .
     Dia, entah siapa dia, datang secepat cahaya di ruangan hampa. Aku percaya, teman, ini bukan mukjizat karena aku bukan nabi. Aku berubah saat itu juga, indah memang . .karena aku percaya, sampai coretan ini terbit aku masih percaya. Ini hanya masalah aku, dia, dan segala perubahanku.
     Belum. ..
     Dia, entah mengapa dia. Kalo saja kamu menanyakan hal ini sudah pasti aku tak berkutik. Aku tidak membicarakan hal yang di luar nalar tapi memang inilah sesuatu yg tidak bisa disambut dengan nalar.Teman, sesuatu ini bak kehilangan kunci untuk memasuki pintu sistem yg disebut nalar. Akal pikiran tak akan sampai menjelaskannya, mungkin hati pun belum tentu paham ini semua.
     Dan lagi. ..
     Dia, entah bagaimana dia. Baru kali ini teman, sekali ini. . .sebelumnya tidak, sama sekali tidak. Aku pontang panting menguasai ini semua. Sempat aku diberikan sesuatu, tapi sangat singkat sekali. Aku tak mau menyebut kata itu, 5 huruf dengan segala maknanya. Semakin ke sini semakin aku merasakannya.
    Masih. .. 
    Dia, entah kapan dia. Singkat sekali memang, aku diantara ketakutan akan kehampaan. Aku paham itu, tapi yg di dalam ini masih belum ingin memahami hal itu. Berapapun penjelasan masih belum cukup, aku bodoh, ku rasa.
    Cukup. ..
    Dia, entah . . .aku tak paham lagi, sepenggal kalimat bahkan belum bisa menjelaskan semuanya. Aku hanya ingin diajarkan bagaimana ini semua terjadi dan bagaimana cara mengembalikannya, paling tidak menuju normal, tak perlu normal. Dan terakhir. . .dia adalah dia yg merubah aku. Apakah dia mengerti? Entah. . . .